Breaking News

MASJID KAMI DILECEHKAN, KAMI DIMINTA TIDAK EMOSI ?

Oleh : Nasrudin Joha

Andai saja, ada orang yang menampar muka kami, maka sah dan dibenarkan, kami marah dan membalas tamparan itu. Anda saja, ada yang meludahi muka kami, ludah itu najis sementara muka kami adalah simbol Marwah dan harga diri, maka kami jelas marah dan akan mengambil sejumlah tindakan untuk meluapkan amarah. Apalagi, jika yang direndahkan agama kami ? Yang dinodai, dilempari najis masjid suci tempat ibadah kami ?

Masjid itu tempat suci, anjing itu najis. Membawa anjing, apalagi sambil memakai alas kaki, sambil marah marah membawa anjing ke masjid dan membiarkan anjing lepas berkeliaran di masjid, bukankah jelas mengotori dan menodai kesucian masjid ? Lantas, dari mana dalilnya kami tak boleh marah ?

Apa kami justru harus mengunggah senyum dan mengucapkan terima kasih pada wanita dan si anjing itu ? Ini ajaran agama siapa ? Apakah Rasulullah mengajarkan ini ? Apakah Rasulullah, Al Mustofa, Muhammad salalahu alaihi wassalam, ridlo agama ini dilecehkan ?

Lantas, kalian yang memakai jubah ulama di MUI. Apa dasar kalian melarang kami emosi ? Apa kami justru diminta menambah emosi, selain marah kepada di wanita kafir pembawa anjing juga marah kepada kalian ? Apa yang telah kalian lakukan agar agama Islam yang mulia ini tidak dihinakan ?

Meminta proses hukum, sudah kami lakukan. Tapi marah, itu hak prerogratif umat Islam. Apalagi, jika hukum yang ditegakkan tidak melindungi aspirasi umat Islam. Dan keadaan itu, sudah mulai terbaca. Aroma busuk melindungi penista masjid, penista agama Islam tercium menyengat dengan dalih si wanita itu gila.

Lantas, kalian para pandir berjubah ulama. Kenapa kalian sibuk mengendalikan kemarahan umat Islam ? Kenapa kalian tidak membela agama kalian ? Atau justru, sikap ini membuka topeng kalian, bahwa sesungguhnya kalian bukan ulama tapi para penjilat rezim yang terus bekerja siang malam untuk melindungi rezim ?

Mana pembelaan kalian untuk agama ini ? Kalian terus sibuk berebut bangkai dunia. Sibuk berebut kekuasan, harta, tahta dan wanita.

Kami hanya bisa emosi, dan itu juga dibenarkan konstitusi. Kami Tetap menjaga diri, karena batasan emosi itu tetap kami jaga tidak menjadi tindakan nyata. Andai saja konstitusi di negeri ini diadopsi dari Al Quran dan as Sunnah, tentu kami tak perlu emosi karena kami bisa ambil langkah langsung eksekusi.

Kami jadi heran, sebenarnya dalam urusan ini posisi kalian dimana ? Berada dibarisan umat dalam membela kemuliaan masjid, atau sibuk membela si wanita penghina masjid ? Ucapan kalian, bukannya menentramkan malah mirip pengacara pelaku penista masjid.

Kami tidak pernah meminta kalian berada di barisan kami. Kami juga tak butuh dukungan kalian untuk membela agama ini. Cukuplah kami bertawakal kepada Allah SWT.

Kami yakin, dibalik semua musibah ini pasti ada hikmahnya. Kami, bertubi-tubi disakiti dan dizalimi. Baru saja kami dicurangi, kematian KPPS yang tak diindahkan, korban 21-22 Mei tak pernah ada kejelasan, kini masjid dicederai dan dilecehkan penguasa juga bungkam. Ditengah kegeraman ini, penguasa justru sibuk meminta ucapan selamat atas kemenangan berdasarkan kecurangan.

Sudahlah ! Ulama kardus, ulama stempel penguasa, ulama fulus, ulama fee sabilillah, ulama 'bisyaroh'. Kita ambil jalan sendiri, silahkan kalian berada dibarisan si wanita penghina masjid. Sedangkan kami, akan tetap teguh dibarisan yang membela kesucian masjid. [].